Bukittinggi berdiri tepat di atas Patahan Besar Sumatera (juga disebut Patahan Semangko), retakan sepanjang sekitar 1.900 km yang membelah Pulau Sumatera. Ngarai Sianok di tepi barat kota adalah lembah yang terbentuk oleh patahan itu. Karena itu gempa dangkal dari dalam daratan terasa kuat di sini, walaupun besarnya tidak sebesar gempa dari laut.
Dua kejadian paling diingat. Pada 28 Juni 1926, dua gempa beruntun mengguncang Padang Panjang dan sekitarnya; sekitar 350 orang meninggal pada gempa pertama. Pada 6 Maret 2007, dua gempa berkekuatan sekitar 6,4 dan 6,3 terjadi berselang dua jam di dekat Danau Singkarak, lebih dari 70 orang meninggal, dan terjadi longsor di Ngarai Sianok. Pada keduanya, gempa kedua datang beberapa jam setelah yang pertama, jadi setelah guncangan besar sebaiknya tetap waspada di tempat yang aman.
Dari arah barat, jalur pertemuan lempeng di lepas pantai Mentawai juga menggoyang Sumatera Barat. Gempa 30 September 2009 berkekuatan 7,6 di lepas pantai Padang menewaskan lebih dari 1.100 orang dan terasa sampai Bukittinggi. Kota ini berada di ketinggian sekitar 930 m, jauh dari pantai, jadi ancaman tsunami bukan masalahnya. Masalahnya adalah bangunan yang runtuh dan jalan yang tertutup longsor, terutama jalan ke Padang lewat Lembah Anai.
Daftar di atas memuat gempa mulai magnitudo 3, termasuk yang tidak dirasakan siapa pun. Gempa dari katalog ini dapat diperbarui besarnya dalam beberapa jam setelah kejadian.